Pendidikan inklusif sebagai HAM. Pentingnya pendidikan inklusif sebagaimana yang telah dibahas pada postingan sebelumnya, sampai sekarang luput dibicarakan. Padahal banyak hal yang bisa kita pelajari untuk meningkatkan mutu pendidikan salah satunya dengan penerapan pendidikan inklusif. Para pengamat, pemerhati, dan praktisi pendidikan lebih fokus mengkritisi soal manajemen, kurikulum, komersialisasi buku, ujian nasional, dan rendahnya kualitas guru, yang harus diakui persoalan-persoalan tersebut sampai kini masih menyisakan masalah.

Ide pendidikan inklusif bermula dari kenyataan bahwa perilaku manusia (human behaviour) sangatlah kompleks sehingga hampir tidak mungkin mencari penyebab tunggal bagi ketidakstabilan emosional atau perilaku.

Berikut tiga persoalan mendasar yang harus dievaluasi dalam pendidikan:

  1. Adanya anggapan tentang keterbelakangan mental ringan. Guru konvensional, biasanya menilai anak yang lambat berfikir mengalami hambatan mental. IQ rendah sering dijadikan satu-satunya bukti. Kalau seperti ini sulitlah harapan orang tua untuk memajukkan anak-anaknya, sebab dengan mengatakan IQ rendah secara otomatis sudah menjadi takdir.
  2. Anak yang kurang berkembang disekolah bukan karena cacat tertentu, tetapi karena ketidakstabilan emosi (emotional distrubance). Anak seperti ini sering dikategorikan sebagai anak yang mengalami hambatan emosional dalam belajar (emotional block learning). Ini kesalahan asumsi, sebab anak yang emosinya tidak stabil harus diberi terapi khusus.
  3. Anak yang tidak maju beajar karena malas. Kemalasan sering dikaitkan dengan keluarga, terutama orang tua.

Dalam perspektif pendidikan inklusif, hal-hal tersebut kurang tepat, sebab pendidikan inklusif tidak mengenal hambatan maupun kekurangan. Prinsip dasar pendidikan inklusif adalah menghargai perbedaan. Tujuan pendidikan inklusif adalah memberikan kesempatan bagi seluruh siswa untuk mengoptimalkan potensinya dan memenuhi kebutuhan belajarnya. Ini berarti pendidikan inklusif merupakan Hak Asai Manusia yang patut didapatkan oleh setiap individu.

-dari beberapa sumber-

Incoming search terms for the article:

Postingan yang berhubungan

  • Pentingnya Pendidikan Inklusif
  • Tips Memanjakan Emosi Anak Didik
  • Agar belajar fisika lebih mudah dan menyenangkan
  • Tips mengajar fisika
  • Ketepatan “assesment, mutlak perlu!