Sistem Pendidikan Nasional Gagal? Lagi-lagi saya membuat judul tulisan sebuah pertanyaan. Pertanyan yang muncul setelah membaca sebuah artikel yang ditulis salah seorang dosen ITB Eva Muchtar pada sebuah majalah edisi bulan Mei 2010, beliau menuturkan “pendidikan nasional saat ini telah gagal memproses generasi bangsa ini menjadi generasi cerdas dan mandiri” hal ini disebabkan karena sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia adalah sekular materialistik”, akibatnya ‘bangsa ini memiliki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang rendah”, hal ini terlihat dari data mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia (ITB), diperoleh gambaran sebagai berikut:
- Tingkat Kecerdasan (IQ>110) = 79%
- Kemandirian (13%)
- Usaha (67%)
- Percaya diri (11%)
- Kepekaan (19%)
- Kepemimpinan (4%
Berdasar data tersebut, jelas bahwa mereka memiliki IQ tinggi, namun tidak mandiri, tidak percaya diri, bahkan tidak memiliki jiwa kepemimpinan. Potret generasi seperti ini tidak akan mampu menyelesaikan persoalan orang lain, apalagi persoalan negara, mereka hanya memikirkan dirinya. Jadi, wajar jika lulusan pendidikan di negeri ini hanya diposisikan sebagai buruh, bukan sebagai pencipta lapangan kerja. Ini artinya Indonesia hanya berpredikat sebagai pengekor bukan sebagai leader.
Kalau sistem pendidikan nasional telah gagal, berarti sistem pendidikan di Indonesia perlu diperbaiki? atau diganti? ***
Incoming search terms for the article:
Postingan yang berhubungan
Tags: gagal, pendidikan nasional, SDM, Sistem Pendidikan, Sistem Pendidikan Nasional, Sistem Pendidikan Nasional Gagal




Setuju mas…
aq suka sistem pendidikan zaman ku SD…
gak pas SMU kemarin… gara2 ngejar kelulusan…
guru dan murid saling membantu dlm ujian (ketergantungan )
terus….ahhhhhhhhh
apa yang salah dengan pendidikan kita:15::15::15:
yang salah guru nya tuh….
klo dia bener2 guru pastinya dia mempersiapkan kelulusan muridnya dengan profesional… tapi barangkali Gurunya Lulus juga karena cuma ngejar ijazah doang. sehingga jadi guru-guruan :16:
Lebih bijak kalau kita ga bisa menyalahkan salah satu pihak….
setuju.
-siswa tidak jujur karena tidak di didik dengan benar oleh guru.
-guru tidak mendidik dengan benar karena (mungkin) kurikulum yang gak benar (disini munkin kita perlu memahami lagi perbedaan pendidikan -moral/akhlak/mentalitas- dengan pengajaran -ilmu/pengetahuan-) + tekanan kepala sekolah supaya siswa bernilai bagus.
-kepala sekolah menekan guru karena tekanan dinas pendidikan setempat (di sebagian -mungkin semua- daerah, sekolah benar2 terseret politik lokal setempat).
-dinas pendidikan daerah menekan kepala sekolah (mungkin ditekan bupati/walikota) untuk pencitraan politik dan nama baik daerah.
-terus ke atas provinsi dan nasional.
(adalah wajar dan manusiawi kalau dalam satu kelas terdapat beberapa orang siswa tinggal kelas atau tidak lulus, karena tidak naik atau tidak lulus juga adalah pendidikan. karena dalam kehidupan wajar dan alami jika seseorang gagal atau bangkrut, yang tidak baik adalah jika seseorang berputus asa)
mengapa ini terjadi?, mungkin karena sebagian pengambil keputusan dalam pendidikan kita (mungkin dalam aspek pemerintahan dan kenegaraan lainya juga) tidak terdidik dengan baik (walaupun terpelajar).
Setuju mba..
skrng tuh ada istilah yang namanya “Tim Suses Sekolah”
Apa-apaan??????
Tim sukses sekolah…. kaya pilkada aja ya? hehe…
Semua komponen sekolah harusnya menjadi tim sukses sekolah lho… tim sukses utk mencerdaskan bangsa… :16:
sebenarya tidak ada yg salh,hnya sja harus ada yg dipebaiki,
terutama guru dan sistem pengajaranya,mnurt sya seharusya sebagai seorg guru tdk bleh:
-mlkukan metode ceramah,karena akn mmbt murid pasif dan trbiasa hny bljar dr apa yg dkatakn gru,
-kmudian jgnlh mengkritik siswa dg sebuah remdial krn akn mmbt siswa malu,krn ssguhnya remdial bkanlh kegagalan tpi proses memperbaiki
-apbl mmbrikn tgas rmah gurupun tdak bleh mnuntut sswa untuk mngrjaknya 100% bnar,yg pntg mrk brusaha.
-setiap siswa d’perbolehkan mlkukn ksalahan,mreka d’perblehkn mmbndingk hsil bljar mrk yg sblmnya,bkan dg tman yg lain
-sebaiknya jgn mlkukn sistem rangking”an krena itu hnya mmbuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yg dianggap terbaik.
-guru hrus memiliki kompetensi yg tinggi,toleransi,dan komitmen pada keberhasilan dan tangungjwab.
Sebenarnya saya nggak setuju mas, tetapi SANGAT SETUJA :12::12::10::12::18:
Kalawo gagal, apa nggak sebaiknya di REMIDI mas?:16:
heuheu… bener mas… diremidi aja haha :16:
jadi inget dulu waktu SD sampai PT sistem pendidikan kita gak separah dan serumit ini ya kang dede
betul mah…
potret kegagalan PT mencetak sarjana saat ini berbeda dengan tahun-tahun yang lalu, saat ini lulusan sarjana tak ubahnya penambah antrian di berbagai pameran bursa-bursa pekerjaan,..deugh…
Prihatin…..
sistem kita mencetak robot. hanya pandai menghapal data dan fakta tapi lemah dalam analisis. Itu sebabnya ketika lulusan kita melanjutkan ke luar negeri, kita kedodoran dalam logika analisa dan problem solving. juga dalam self confidence ketika harus memimpin team work atau ketika harus mempresentasikan proyeknya. ini lobang besar yah mas.. harus dipikirkan bersama antara pemangku kepentingan.
Robot yg lemah & ga laku ya Bang? :16:
tamparan buat saya nih sebagai seorang guru, pissssss
Kita seprofesi Pak.. :01:
Sebagai rekan seprofesi, saya juga miris kang..
Iya bang… semoga kedepannya bisa menghasilkan lulusan terbaiknya
woww… segitu ironisnya Kang Dede?
lantas apakah yang dikerjakan para pemikir pendidikan indonesia?
semoga ke depan bisa lebih baik
sehingga generasi kita semakin berkualitas..
salam sukses..
sedj
Amin… kehidupan lebih baik, pendidikan Indonesia lebih baik… harapan semua.. Semoga.
Salam sukses juga mas Sedjatee
iya niiih jadi bagaimana niih bangsa kita, semoga dikemudian hari bangsa kita bukan lagi menjadi bangsa yang pengekor….. hhhhhhaaaaa jadi sedih niiih.:02:
heuheu… mudah2an bisa jad kepala ya? :01:
Bukan 100% sebenarnya kesalahan sistem, tapi ada juga faktor keluarga, berbeda dengan jaman dahulu, keluarga begitu gencar mendukung anak belajar , tetapi sekarang anak sepenuhnya diserahkan kepada guru atau guru private, pengaruh teknologi yang tidak mampu menggunakannya dengan bijak mengakibatkan menurunnya usaha untuk meningkatkan skill dan kemampuan, terutama kepemimpinan diri, Dalam era teknologi yang berkembang, guru juga kurang meningkatkan wawasan, sehingga benyak ketertinggalan.
dan memang sistem pendidikan dengan kurikulum yang berubah-ubah sehingga semua hanya sebagai bahan uji.
Miris sekali saya memandang kondisi ini sebagai seorang GURU juga
bisa juga… tera kasih masukannya Mba Jumialely,
Wah pak, kalau sistem pendidikan nasional kita gagal,
kasihan masa depan anak cucu kita dung..
lalu apa peran kita sebagai orang tua untuk memotivasi jika sistem pendidikan nasional kita terbilang gagal??
Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi Bang… kita berdo’a saja :01:
:04: kang dede ada fans baru nih tuh liat di fitrimelinda piss hihih :20::22:
yg bener?…. masa? :20::22: *ge-eR mode On*
Diperbaiki, diperbaharui, dimodernisasi kali ya..?:22:
Iya… kaleee :22:
hehehe….IQ saya 132 trus lulus di UNPAD…tapi saya milih gk kuliah….
hehehe….
pengen ngebuktiin ma orang”….
klo gk kuliah juga bisa sukses…..
Udah terbukti belom? :16:
Bagusnya diganti sama sistem pendidikan yang kayak gimana? Ada ide ga? :22:
:22: yg pasti yg lebih baik… :18:
Nampaknya memang benar demikian, ya?
Sepertinya betu Pak guru…
bener banget, itu bermula dari gamangnya pemerintah ini terhadap arah pembangunan bangsa ini…
Mudah2an kedepannya ga gamang lagi ya..
gagal sekarang tidak masalah, yang penting berhasil di kemudian hari… dan menjadi lebih baik…
Harapan kita demikian, bisa lebih baik…
Lha sebenarnya sistem pendidikan nasional kita ini mengacu pada negara mana sih?
Dulu kok rasanya beres2 aja dan hasilnya juga banyak yang bagus…
Tapi sekarang??? Cuma mengejar kelulusan doang…
Mengacu paa negara antah berantah kalee… :02:
Sukses SOb! :01:
wah blognya bagus sekali, banyak dapat pencerahan salam kenal di kunjungan pertama ini, semoga bisa menjadi sahabatnya walau hanya di blog, salam
Thanks … pujian yg berlebihan…
alam kenal juga… Pastinya bisa. Salam juga Non!
kunjungan pagi om..
Mangga Ommm…
Mungkin ini lah perubahan dalam dunia pendidikan kita, ironis sekali yahhh
Perubahan yg merugikan….
kalau gagal, apa bisa diperbaiki? bagaimana caranya ?? dan bagaimana kalau gagal lagi ya ??? kasian kasian kasian
Optimis saja… semoga kedepannya bisa lebih baik…
setujuuu… sistem pendidikan nasional kita gagal.
tak jelas arahnya dan visi yang dangkal…
akhirnya kebijakannya amburadul
Berkunjung lagi tuk menyapa saudaraku di seberang sana.
Selamat malam dan salam hangat selalu.
Selamat sore… & salam hangat juga pak
hm…. yap..
Sepertinya sa’at ini sekolah dan kuliah targetnya hanya ijazah untuk supaya bisa kerja atau ditempatkan diperusahaan dan instansi tertentu ya kang? tp gak semua. Ada sebagian orang mengatakan “ngapain sekolah tinggi2 ntar juga cari kerja susah” padahal kalau menurut saya orang awam, menimba ilmu tujuannya buka cuma untuk mendapat pekerjaan dan uang. Itu mungkin kang yang dibilang Sekuler dan Matrialis, tidak meniatkan menuntut ilmu untuk ibadah. Punten kang ah, abdimah jalmi teu nyakola.
Betul… bisa juga demikian kang..
Nuhun komennya
makin lama makin menurun kualitas SDM nya.. :02::02:
wilujeng sonten Kang :09: hapunteun nuju amengan deui
ditilik-tilik, ko tambah seeur nya Kang siswa anu gagal UAN ?:22:
mudah-mudahan aya perbaikan sistem di pendidikan mendatang…amien
salam hangat kanggo Kang de sakulawargi…
Salam sukses juga kanggo kang Riez sakulawargi… :01:
yap benar
kita berharap sedemikian
salam dalam persahabatan
Salam persahabatan juga & Piss :01:
duh kumaha atuh kang, kudu disakolakeun kamana atuh ieu murangkalih abdi :22:
kamana nya?
*balik nanya, lieur mode on*
ini yang komentar ada yang siswa ada juga yang guru… masing2 punya argumen :20:
der kadinya sing rame ah :12:
derrr… sok lah…
sigana kedah aya guru baru yeuh..urang daftar lah kekeke
mangga kang.. sok atuh dalaftar… heuehu..
Yang perlu ditanyakan adalah Tujuan pendidikan. Apakah memang menyiapkan manusia yang siap pakai atau untuk pembekalan belaka yang harus diikuti pendidikan lanjutan.
Salam hangat dari BlogCamp yang saat ini sedang menggelar acara ” Ungkapkan Opini Anda” dan ”The Amazing Picture ” dalam rangka menyambut 1st BlogCamp’s Anniversary.
Silahkan bergabung di BlogCamp dan raihlah hadiah yang menarik.
Betul Pakde. Salam hangat juga.. maaf ga bisa ikut memeriahkan acaranya. Beberapa hari kemarin ada keperluan yg memaksa utk off…
Saya banyak gak setujunya mas…. …. terlalu mindset bukan motorik.. itu sebenarnya intinya…….
hm…. bisa juga..
menurut aku sih..
IQ dan well-informed-person bukanlah segalanya sekarang..
tapi orang yang kreatif dan inovatif yang akan maju di dunia baru ini… :10:
Betul pisan….
ilmu tinggi memang bukan segalanya,tapi ahklak yg tinggi itulah sebenarnya yg dicari.
orang tidak perduli seberapa banyak ilmu kita,tapi mereka perduli seberapa perduli kita terhadap orang lain :01:
setuju…:12:
Benar Bang… :01:
:16::16::16:
wow… mahasiswa ITB aja yg katanya salah satu univ terbaik di Indonesia sdh punya profil mahasiswa kyk gitu…apalgi di univ lain…
:16: …
kalo diganti sih gak juga. karena bagaimanpuan, setiap kekurangan ada kelebihan
mending memperbaiki yang kurang kurang
Siipp Zul… komennya OK :12:
berharap aja.. semoga pendidikan indonesia tambah baik dan jauh dari segala macam sikap premanisme yg berkedok mahasiswa.. semoga pendidikan indonesia lebih maju lg.. amin.. :09:
salam pisss dan semangattz:08:
Amin.. juga…
pendidikan dasar dan menengah terlalu fokus kepada UN, mana bisa berkualitas… :04:
Iya … optimis saja.. smoga kedepannya smakin berkualitas…
Setuju, tapi bukan salah satu atau dua pihak saja. Lagi pula ukuran gagal berhasil kan bukan hanya standar evaluasi dari pemerintah.
gagal secara UNAS belum tentu pendidikan gagal kan kang
tapi kalau itu sudah standart apa harus salah
Betul gan…
wah betulkah sistem pendidikan yang gagal kang
selamat berakhir pekan kang
salam dari pamekasan madura semoga shat dan bahagia bersama kelauarga tercinta
Selmat juga Mas Citro… Mpisss :16:
seharusnyalah sudah pendidikan di orintasikan bukan hanya jangka pendek semata melainkan membangun manusia seutuhnya, cerdas ilmu cerdas akal dan budi pekerti
Betul, semoga saja bisa tercapai
saya setuju dengan kalimat yang paling akhir….
Kalau sistem pendidikan nasional telah gagal, berarti sistem pendidikan di Indonesia perlu diperbaiki? atau diganti? ***
teringat teman saya waktu duluh..terpaksa ga bisa melanjutkan sekolahnya dikarenakan kurang biaya atau tidak ada biaya lagi ” menggaris bawai : sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia adalah sekular materialistik ” hal ini benar-benar terjadi.
salam hangat
Salam hangat juga Andie… Pisss hehe
kang dede teu aja..hahahaha
pisssss juga dech
antara nilai IPK dan jiwwa leader….keduanya sangat penting…entah lebih berarti mana saya tidak tau yang jelas untuk berjalan seimbang antara keduanya, saya mersa susah…
SBY memilih 3 orang pendobrak bangsa indonesia (maaf kang lupa namanya) salah 1 dari mereka berkata : IPK baik akan sedikit gampang mencari kerjaan…tapi jika jiwa leader akan mudah menuju kesuksesan..
salam adem ayem kang
Sippp .. betul Andi..
Kalau gagal, salah siapa? :02:
:12: :12: :12:
Salah siapa ya?…
(balik nanya… bingung…
ada yang kurang tepat..
seolah-olah wajib belajar = wajib sekolah
padahal belajar bisa dimana saja, kapan saja
seperti perintah agama
menuntut ilmu itu wajib bagi kaum muslimin
bukan sekolah yhang wajib
tapi menuntut ilmu
ya kan Kang Dede?
salam sukses..
sedj
Betul banget ms..
SUkses juga untuk Mas Sedjatee
met pagii met aktifitas…apakabarr kang??
hihihi tingkat percaya diri urutan nya k 4
bri kira pertama :05:
Malam Bri… Sukses untukmu :05:
Assalamu’alaikum,
Sebenarnya tujuan pendidikan kita sudah baik seperti yang tertulis dalam Undang-undang, tapi dalam menuangkan tujuan itu banyak yang menyimpang dari arah tujuan itu. Kemauan politik para penyelenggara pemerintahan tampak tidak sepenuh hati dalam memajukan pendidikan ini. Setiap praktisi dan stakeholder pendidikan di negeri ini tahu betul bagaimana keadaan pendidikan kita yang sangat memprihatinkan ini. Untuk memperbaikinya sudah sangat sulit bisa berhasil dalam waktu beberapa tahun saja. Dan untuk itu perlu sinergi antara pemerintah, masyarakat, praktisi dan birokrasi pendidikan, itu pun akan memakan waktu yang cukup lama.
Terima kasih Pak Dede, sebuah tulisan yang akan mengusik hati semua praktisi dan stakeholder pendidikan.
Salam.
Wa’alaikumsalam…
Amin, semoga saja demikian kang.
sepertinya sistemnya yang perlu diganti :22:
Apapun itu… kalau bisa membuat pendidikan lebih baik… harus dilakukan
sebenarnya tdk seluruhnya kesalahan pd sistem.
guru2 pun masih banyak yg tdk mau meningkatkan dirinya sendiri, dgn kemajuan teknologi yg ada.
selain itu mungkin juga perlu disadari tujuan dr pendidikan itu sendiri,
apakah utk mencetak generasi siap pakai atau hrs dilanjutkan lagi keahliannya pd bidang tertentu.
Sebaiknya memang dipikirkan bersama2 dgn instansi terkait langsung dgn pendidikan kita.
salam
setuju bunda…. ini tanggung jawab bersama..
wuih, mahasiswa ITB aja kek gitu apalagi yang laen nih
perlu diperhitungkan masalah pendidikan di negara kita nih
Betul Prof…
jangan sampe sistem pendidikan jadi ajang percobaan buat generasi saat ini.. kasian liatnya. :01:
Jangan sampai…
Saya melihat akar permasalahan ini terjadi pada learning process yang kita kembangkan selama ini, dimana pembelajaran cenderung lebih bergaya behavioristik, kurang memberikan ruang kreatif bagi siswa.dan kurang membentuk jiwa enterpreneurship.
Tentunya ini menjadi tantangan bagi semua pihak yang terlibat dalam pendidikan
Terima kasih atas infonya.
sawangsulna kang Adjat :09:
hehe… nuhun kang, pangwalerkeun :18:
Sama-sama terima kasih komen + masukannya
harus diperbaiki……………………….
siap pak Hakim :02:
Yap…
eh…. sory ya sy jarang komen kalo pake disqus :02: :01:
Assalaamu’alaikum Dede
Saya bersetuju dengan pendapat Akhmad Sudrajat. Jika gaya pembelajarannya bersifat teori behaviorisme, hal ini seperti hanya mengikuti sahaja tidak terkait dengan pengalaman. maka teori pembelajaran konstrutiivisme harus ditekankan kerana pelajar belajar melalui pengalaman yang punya kontekstual dengan pembelajarannya. Keadaan sistem pembelajaran yang lebih bersifat exam oriented juga memendekkan jarak untuk pelajar kita menjadi kreatif dalam pemikiran dan kepimpinan. semoga ada perubahan dalam sistem pendidikan pada masa akan datang. Info yang menarik. Salam mesra dari saya.
Wa’alaikumsalam Bunda Siti…
Salam mesra juga dari Legokjawa Cimerak Ciamis Indonesia
sekarang jamannya bukan mendidik menjadi penghafal yang ulung tapi menciptakan insan yang mempunyai analisis yang tinggi, tahu implementasi, berakhlak dan percaya diri.
sebuah usaha yang lumayan berat……
dan barusan adalah komentar yang berat :21:
benar juga
MERDEKAA!!!!!:08:
kemana aja neh… ayo semangattzz… suksess aja yaa….. !!! :12:
lagi lalajo piala dunya :07:
Merdek juga & Piss…. biasa bang sibuk teu puguh…
solusinya adalah memperketat jara belajar mengajar…
mengutamakan kualitas cara mengajar,sebagian besar siswa pastinya kurang begitu faham apa yang diajarkan pengajar (dalam segi penyampaian materi).pengajar selalu berusaha menumbuhkan rasa percaya diri pada setiap siswanya (ini yang amat penting)
ada tambahan lain…????
salam sejahtera
harusnya guru menempatkan diri sebagai murid :22:
Salam sejahtera juga & Piss juga hehee
Sepakat !… Penentu kebijakan dalam sistem pendidikan indonesia seperti kurikulum, silabus dll banyak membingungkan. Maka menghasilkan generasi bingung seperti sekarang.
Salam sobat
Salam juga SOb…
walau sekolah saya gagal ( gak sampai lulus ) saya gak ingin mengulangi kegagalan dalam hidup saya… cita2nya seh pengen usaha mandiri…. semoga bisa :01:
turut mendoakan kang :01: semoga berhasil
Insya Allah bisa… sy do’akan…
semoga kang dede sekeluarga selalu dalam lindungan Allah….
amiiiiiinnnn… :01:
Aminn juga nuhun do’anya kang…
Alhamdulilah baik kang, kemarin2 emang sering off…
kamana wae kang dede..kangen yeuh saya eh eh eh:16:
nuju sibuk ku piala dunya kang :16:
:16: haha… hidup Argentina!
AYa kang…. maklum profesi oemar bakrie… diakhir semester banyak kerjaan :01:
Semoga lain kali dan yang akan datang gak gagal lagi
Amin….
Kalo gagal entar kaya apa dong anak kita
Sepertinya gagal nggak cuma dalam penerapannya banyak kendala saja dan kurang sesuai dengan keadaan
Wakkakkkakk
Sok pakar nya kang dadang
PR yang berat bagi kita semua sebagai seorang Guru Kang…
Betul….
Kebijakan pendidikan nasional kita selama ini jauh dari kesan membumi. Akibatnya setiap kebijakan pendidikan nasional yang diambil Pemerintah selalu menimbulkan polemik dan kontroversi, dan bila dipaksakan, maka yang timbul hanyalah permasalahan baru.
Betul…
“Ada 4 persoalan yang telah menjadikan sistem pendidikan nasional menjadi ruwet seperti sekarang ini, pertama, Penerapan Ujian Nasional; kedua, persoalan sertifikasi guru; ketiga,persoalan sekolah berstandar internasional; dan keempat, masalah undang-undang BHP.Kini sistem pendidikan kita begitu kompleks, tetapi tanpa makna,”
Iya bang… Sipp..
Secara pribadi saya tidak cukup berkompeten berbicara soal ujian nasional, karena saya hanya lah guru madrasah biasa. Namun sepanjang karir saya sebagai guru setidaknya sudah 8 tahun terakhir ini saya terlibat aktif dalam penyelenggaraan ujian nasional entah itu selaku panitia maupun pengawas umum, sehingga menurut saya pengalaman yang ada tersebut cukup memberikan gambaran akan ruwetnya prosesi ujian nasional tersebut. Beberapa rekan guru menyebutnya dilema moral, saya sendiri menyebutnya anomali sistem pendidikan.
Bener banget bang…. sangat diematis…. atw anomali menurut bahasa imia Bang Iwan mah
Penerapan kebijakan ujian nasional, telah bermasalah sejak pertama kali ditetapkan. Namun, pemerintah seolah tutup mata dan jalan terus tanpa ada proses jeda, evaluasi, dan perbaikan.
Tutup mataalias pura2 ga melihat….,
wah gak di duga2 hancur banget ya….
sejauh ini belajar masih dimaknai sebagai proses utk ujian.. bukannya ujian utk belajar..