Entah Sampai Kapan

LOGO PNGPangandaran, sebuah kabupaten baru – sejak 25 Oktober 2012 – pemekaran Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Memiliki Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Endjang Naffandy sejak 22 April 2013, secara administratif masih menginduk ke Kabupaten Ciamis dan baru akan melakukan pemilihan bupati tahun 2015 nanti.

Namun, bukan masalah kabupaten baru yang akan dibahas kali ini, tapi keadaan salah satu sarana transportasi, yaitu jalan raya. Hampir sebagian besar jalan raya di Kabupaten Pangandaran mengalami kerusakan, bahkan rusak berat, mulai dari Kecamatan Padaherang, Kalipucang, Pangandaran, Sidamulih, Parigi, Cijulang, dan Cimerak. Bahkan untuk Kecamatan Parigi – yang kabarnya akan dijadikan ibu kota kabupaten – dan Kecamatan Cijulang kerusakannya sudah sangat parah.

Kondisi tersebut sudah berlangsung tahunan. Usulan perbaikan hingga demonstrasi sudah dilakukan warga. Hasilnya? Perbaikan dilakukan, tapi hanya dengan menambal ‘kubangan kerbau’ dengan batu campur tanah. Akhirnya, ketika kemarau debu sangat menyesakkan, ketika musim hujan nyaris bumbu sate. Entah sampai kapan? Terlalu lama jika harus menunggu hingga pilihan bupati 2015 nanti. Aneh, padahal jalan raya yang rusak merupakan jalur wisata utama yang akan menjadi salah satu sumber utama Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Pangandaran, selain Pantai Pangandaran, di Kecamatan Parigi terdapat objek wisata pantai Karangtirta, pantai Batuhiu, dan wisata alam Citumang. Begitupun di Cijulang ada pantai Batukaras, Green Canyon, dan Pantai Madasari (Bulben) di Cimerak.

Salah satu bentuk protes, sebagian warga melakukannya dengan tulisan-tulisan dan spanduk, berikut diantaranya:

Jalan Kabupaten Pangandaran Rusak parah

Jalan Kabupaten Pangandaran Rusak parah

jalan Raya Pangandaran Rusak parah

jalan Raya Pangandaran Rusak parah

Lucu... heuheu

Lucu… heuheu

Dalam beberapa tahun terakhir, tiap harinya ratusan truk pengangkut pasir besi dengan muatan yang melebihi kuota dan tidak seimbang dengan kekuatan jalan dianggap sebagai penyebab utama rusaknya jalan, setelah demo warga –Maret 2013 – akhirnya berhenti, namun disinyalir masih ada beberapa truk pengangkut pasir besi yang masih beroperasi, terutama malam hari. Spanduk berikut bentuk protes warga terhadap eksploitasi pasir besi yang menyebabkan rusaknya jalan yang masih terpasang hingga sekarang :

Jalan rusak akibat truk pasir besi

Jalan rusak akibat truk pasir besi

bentuk protes jalan raya rusak

bentuk protes jalan raya rusak

Penulis sebagai warga Kabupaten Pangandaran tentunya berharap kondisi diatas tidak berlangsung lama. Perbaiki total jalan raya! supaya kami tidak de rieut, de jangar & de lieur lagi  :P :D

Salam Piss

Share Button

Incoming search terms for the article:

35 thoughts on “Entah Sampai Kapan

  1. Bali

    mungkinkah ini ada muatan politik agar pangandaran kembali ke Ciamis??
    oh ya kang mau nanya ; de rieut, de jangar & de lieur itu apa?

  2. Anton

    Jalan raya yg rusak memang hampir menjadi permasalahan umum di kota-kota di Indonesia. Banyak yg kondisinya mengenaskan ya mas, padahal jalan mrpkan salah satu infrasruktur yg menunjang pertumbuhan ekonomi di suatu daerah. Pasti ada cost lebih yg hrs dikeluarkan oleh pelaku ekonomi. Semoga saja pemda segera menaruh perhatian ya mas. Salam hangat…

  3. Bang Ancis

    Whew…. sampai dibuat spanduk segala, bisa dibayangkan bagaimana emosinya orang2 di sana…. semoga segera diperhatikan, jangan hanya saat menjelang pilkada saja perhatiannya…

  4. Fiz

    Menurut saya sungguh keadaan yang ironis ketika daerah penghasil pasir besi “belum bisa” memplester jalan rayanya. Ke mana semua wakil rakyat dan Bapak Pimpinan Daerah?

  5. Ferry

    Sudah lama belum ke pantai pengandaran lagi. Dulu waktu saya masih sekolah di Majenang beberapa kali bermain di pantai pangandaran. Jalan dulu sepertinya lebih baik dari gambar sekarang ini sobat

  6. gadgetboi

    hadeehhh … kapan mau maju pangandaran? kapan mau jadi the next bali beach? :sorry udah lah cakra khan maju jadi bupati :ngakak

    tapi spanduknya memang “brutal” yah … mungkin kemarahan masyarakat sudah benar-benar di batas maximal :ngakak
    kalau di bandung saya pernah liat spanduk “maling asup, modar!” gara2 daerah tersebut sering kemalingan. :ngakaks

  7. BALI

    balik lagi pngen ngomen nieh, tadi siang penasaran nanya ma temen arti dari tulisan yang ada di spanduk pada gambar, ternyata oh ternyata kihkihkih… :hoax2

  8. yayats38

    Semoga segera berbenah ya kang … Pangandaran, banyak sumber daya yang potensial dari mulai pariwisata, perkebunan, dll.
    Setuju banget, transportasi yang lebih utama mengingat akses menuju Pangandaran jalannya kecil sehingga paling tidak harus mulus lah.
    Keur mah leutik jalana ulah nepi ka barenjol
    Sukses lah buat orang Pangandaran :)
    :thanks2

  9. Teja

    Punten kang admin saalit ngalereskeun Sukaresik mah bukan Kecamatan tapi Desa , yang bener Desa Sukaresik Kecamatannya Sidamulih . . .

  10. Vill di Puncak

    wah lumayan kotor kata-katany tapi lucu :D
    yang jelas apapun tulisan yang mereka buat merupakan bentuk ekspresi dan perotes terhadap kondisi jalan di sekitarnya, semoga mendapat tanggapan dan respon yang baik dari pemerintah setempat

  11. Pulau Tidung

    Di Pulau Tidung juga sama, kondisi jalannya, tidak seberapa rusak, namun kian menyempit. Seperti jalur pantura, giliran mau mudik baru di benahi. kanapa tidak jauh – jauh hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>